Senin, 17 Mei 2010

Aku bertanya untuk Keadilan

What is the truth? adalah pertanyaan klasik yang dipertanyakan oleh para pencari kebenaran di dunia ini. Apa yang benar? dan apa yang salah? adalah masalah bolak-balik yang bisa direkayasa untuk kepantingan-kepentingan. Socrates minum racun maut, meskipun dibujuk oleh murid-muridnya agar tidak melakukannya. Apa yang "benar" dalam keyakinannya menuntun Socrates untuk melakukan tindakan itu. Padahal itulah yang diharapkan oleh penguasa agar Socrates mati. Bagi kalangan penentangnya "kebenaran" yang diyakini dan dihayati oleh Socrates adalah sebuah kekonyolan tragis, tapi bagi para pengikutnya keyakinan yang tidak tergoyahkan justru menabalkan Socrates sebagai filsuf yang satu kata dan satu perbuatan. Lalu mana yang benar? dan mana yang salah?. Relatif. Semua punya argumen masing-masing.

Lalu dengan jalan pikiran yang kira-kira sama, what is the justice? Apa itu keadilan? adil menurut siapa?. Adil bagi saya apakah itu juga berarti adil bagi yang lain?.Apakah keadilan melulu soal simetrikal ataukah non simetrikal?. Lalu kapan keadilan itu dipertanyakan? apakah ketika kita mengalami ketidakadilan?
Apakah hidup di dunia ini, selalu soal keadilan? Mengapa ada orang kaya tapi disisi lain juga ada orang miskin.Apakah adil jika orang kaya menjadi kaya hanya karena faktor keturunan, sementara ada orang yang tetap miskin karena sengaja dibuat miskin walaupun sudah berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari kemiskinan.

Siapakah yang berhak menentukan keadilan? manusiakah? Tuhankah? Jika manusia keadilan apakah yang sedang kita cari, keadilan manusia?. Apakah hakiki? tidakkah keadilan bagi yang satu berarti ketidakadilan bagi yang lain pada saat yang bersamaan.

Aku melihat keatas dan memandang kepada Hakim di atas segala hakim dan meminta keadilanNya. Tapi sebenarnya yang aku cari adalah bagaimana supaya Ia berpihak kepada kepentinganku semata, padahal aku lupa kepentinganku bisa berarti malapetaka bagi yang lain. Lalu apa artinya aku meminta keadilanNya? berserah dan percaya kepadaNya tanpa harus memikirkan kepentingan diri sendiri, biarkanlah Dia memutuskan keadilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar