Selasa, 03 Agustus 2010

Palangkaraya: Nasibmu dan Takdirmu Kini

Ditengah gegap gempita wacana pemindahan pusat pemerintahan Indonesia, dan salah satu kota yang diusulkan karena alasan historis, posisi geografis, alasan keamanan, dan geopolitis, adalah kota Palangkaraya. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan beberapa cuil informasi yang barangkali terlewatkan. Kota Palangkaraya adalah satu-satunya kota pertama yang dibangun pada masa kemerdekaan oleh tangan bangsa Indonesia sendiri. Embrio awal dari kota ini adalah sebuah desa yang bernama Pahandut, sebuah desa di tepi sungai Kahayan. Desa ini pada awalnya cukup berkembang, dan penduduknya pada waktu itu kebanyakan bermatapencaharian sebagai petani, pencari hasil hutan dan nelayan. Desa ini terhitung sebagai desa ke-17 dari muara sungai Kahayan. Tokoh pembentukan Propinsi baru, yang ke 17 Kalimantan Tengah, pada waktu sedang berupaya untuk menentukan ibukota Propinsi baru ini. Ada beberapa kota yang telah berkembang dan menawarkan diri untuk menjadi ibukota propinsi baru itu, namun pemikiran untuk membangun sebuah kota baru, kota pertama di alam kemerdekaan rupanya mendominasi pengambilan keputusan untuk memilih lokasi di mana desa Pahandut, dan desa Jekan berlokasi. Ide untuk membangun sebuah kota baru yang bebas dari pengaruh Belanda dan Jepang diduga kuat berasal dari Soekarno presiden pertama RI, dan kemudian dieksekusi oleh tokoh -tokoh pembentukan propinsi Kalimantan Tengah.

Lalu dimulailah suatu pekerjaan yang mahaberat: mengubah hutan rimba perawan menjadi sebuah kota. Tak terkirakan dedikasi dan semangat melebur antara pemimpin dan rakyat Kalimantan Tengah untuk mewujudkan impian itu. Hutan di tebas dengan peralatan tradisional dan modern, raungan suara gergaji mesin bersaing dengan suara mesin buldozer meratakan tanah. Lalu para tukang-tukang bangunan dan tukang pembuat jalan bahu membahu membuat banguan kantor pemerintahan dan infrastruktur jalan. Sampai saat ini para sesepuh yang terlibat dalam pembangunan kota Palangkaraya, masih bisa dengan bangga menceritakan perjuangan mahaberat itu lengkap dengan berbagai romantika dan kisah mistis yang membalutnya untuk anak cucu mereka.

Sayangnya proyek mercusuar Soekarno untuk memimpin blok baru dunia melalui proyek Ganefo-nya sedikit banyak telah mengalihkan perhatian kepada pembangunan kota baru ini. Ditambah dengan berbagai persoalan yang menyangkut teknis di lapangan dan pada akhirnya posisi politik Soekarno yang sudah goyah di akhir masa pemerintahannya, semakin menenggelamkan ambisi besar untuk sebuah kota Modal-Model impian rakyat merdeka. Palangkaraya terpinggirkan dari ambisi besar dan harus meniti jalan nasibnya sendiri.

Kini, nasib telah membawa palangkaraya berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk kira-kira 189,000-an orang. Pendapatan asli daerahnya tidak terlalu mengesankan hanya sekitar 23-an milyar pada tahun 2009 lalu. Dengan luas kira-kira 2400 an kilometer persegi, dan dari luas itu 93% -nya masih berupa hutan dan lahan pertanian, maka luas terbangun kota itu kira-kira baru 7% dari luas totalnya. Sehingga lengkaplah kalau kota Palangka seringkali di juluki sebagai kota dwimuka. ada muka countryside yang didominasi oleh hutan belantara dan desa-desa kecil, sementara itu di wilayah intinya terdapat muka kota yang didominasi oleh bangunan publik dan pemukiman padat penduduk.

Palangkaraya terdiri dari dua kata. Palangka dan Raya. Palangka lengkapnya palangka bulau adalah wahana mitologi dalam kepercayaan Kaharingan (agama asli penduduk Kalimantan Tengah) yang membawa turun manusia pertama ke dalam dunia ini. Palangka bermakna wadah atau tempat yang suci (holy place). Sementara itu Raya, yang juga dikenal dalam bahasa Indonesia berarti besar. Sehingga secara harafiah palangkaraya dapat berarti tempat yang suci dan besar. Pemberian nama ini menggambarkan cita-cita dan visi para tokoh yang terlibat dalam pembangunan kota Palangka Raya akan sebuah kota yang besar dan kota yang mengagungkan kesucian (bersih dari budaya korupsi, kongkalikong, suap, hidup bermartabat dalam kebersamaan) sebagai jalan hidupnya.

Nama palangkaraya, pada awalnya ditulis terpisah antara kata Palangka dan kata Raya. Namun belakangan ditulis dalam satu kesatuan, dan kini entah mengapa mulai dikembalikan kepada cara penulisan awalnya. Tapi itu tidak terlalu penting-penting amat,terserahlah yang baiknya bagaimana. Perhatian saya lebih banyak fokus kepada nasib Kota Palangkaraya (saya ikuti penulisan yang enaknya menurut saya saja) yang kini seakan ditarik kembali kepada masa-masa gegap gempitanya nasionalisme di kumandangkan oleh Soekarna. Adalah sebuah takdir jika dimasa lalunya Palangkaraya pernah digadang-gadang oleh pemimpin karismatis bangsa ini untuk menjadi sebuah kota pertama yang besar di alam kemerdekaan dan dibesarkan oleh tangan bangsa ini sendiri bebas dari pengaruh Belanda dan Jepang. Adalah takdirnya juga jika tangan Soekarno ikut mendisain kota ini. Dan juga adalah takdir jika tangan Soekarnolah yang meletakan batu pertama (sebenarnya tiang) sebagai landasan pembangunan kota ini. Takdir telah membawa kota Palangkaraya harus menempuh jalan hidupnya sendiri setelah terhempas dari ambisi besar dari besar sang Pemimpin. Dan kini nasib pula yang mempertemukan Palangkaraya dengan gagasan besar untuk memindahkan pusat pemerintahan Republik ini. Kota Palangkaraya masuk dalam nominasi calon pusat pemerintahan karena alasan historisnya kemudian didukung dengan posisi geografis dan geopolitisnya dan dilengkapi dengan keamanan dari aktifitas geologis yang membahayakan.

Barangkali satu yang masih tertinggal adalah posisi Palangkaraya yang dikepung oleh daerah aliran sungai. Posisi hidrologi ini telah menganugerahi kota Palangka Raya dengan lansekap penyimpan air permukaan dan air bawah permukaan sebagai bagian dari sistim besar hidrologi pulau Kalimantan dan propinsi Kalimantan pada khususnya. Bukti empiris telah menunjukan bahwa gangguan terhadap sistim hidrologi itu akan menimbulkan ketidakseimbangan dan gangguan terhadap yang lain. Sebagai Pembukaan perkebunan sawit yang tidak terkendali telah mengikis daya dukung pengendalian air permukaan dan air bawah permukaan. Jadi meskipun curah hujan rata-rata cukup rendah, namun akhir-akhir ini banjir dengan mudah melanda. Contoh yang lain adalah pengalaman di masa lalu ketika Soeharto mencanangkan pembukaan lahan sejuta hektar untuk menanam padi. Saluran irigasi buatan manusia ternyata telah mengiris kubah raksasa gambut yang menyimpan air dengan kadar pirit yang tinggi. Akibatnya lahan yang digadang-gadang dapat menumbuhkan padi dengan kualitas tinggi akhirnya berproduksi dengan kualitas rendah. Proyek lahan sejuta hektar akhirnya berantakan, namun akibat buruknya terhadap kehidupan sosial masyarakat asli dan lingkungan hidup sampai kapanpun tidak akan pernah terlupakan. Dua contoh diatas hendaklah menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sedungu-dungunya keledai, diapun tidak bakalan terperosok ke lubang yang sama.

Wacana pemindahan pusat pemerintahan Ri yang disebut-sebut akan ditempatkan di Palangkaraya, sangatlah menarik untuk didiskusikan. Karena baru berupa wacana ya tentulah masih jauh panggang dari api. Namun membicarakannya sangatlah menarik, karena paling tidak sekarang orang jadi tahu kota Palangkaraya. Sebagian orang berlomba-lomba membicarakannya dengan pengetahuan dan versinya masing-masing, ya sah-sah saja. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun wacana ini telah menghembuskan berbagai macam isu di tengah-tengah masyarakat. misalnya Isu tentang ganti rugi tanah untuk pembangunan infrastruktur dan bangunan pemerintahan telah menggerakan para spekulan tanah baik yang profesional maupun yang dadakan untuk berlomba-lomba menyimpan kavling tanah terutama untuk daerah yang strategis. Isu yang lain yang beredar adalah masyarakat lokal bakal terpinggirkan oleh aktifitas para pendatang di kota Palangkaraya, lalu munculah ungkapan “tempun petak nana sare” ( terjemahan bebas: punya tanah tapi bertani di pinggiran).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar