Senin, 26 April 2010

Belajar
Proses belajar adalah bagian dari kehidupan kita sebagai manusia. Tanpa kita sadari bahwa, begitu banyak proses belajar yang telah kita lalui sehingga,kalau sampai saat ini kita bisa melakukan berbagai macam ketrampilan hidup, maka itu tidak diperoleh secara tiba-tiba, itu datang sebagai hasil dari pembelajaran. Masih ingatkah kita bagaimana kita belajar berjalan, kita belajar mengenali alam yang ada disekitar kita, atau masih ingatkah kita belajar mengenai lambang numerik abstrak, atau belajar berbicara, menulis dan sebagainya.

Manusia adalah mahluk yang mampu belajar secara kompleks. Otaknya memang didesain itu tugas itu. labirin-labirin otak manusia memiliki kemampuan jauh di atas mahluk hidup lainnya di dalam menyimpan memori dan berimajinasi. Itu sebabnya manusia mampu belajar dari pengalaman-pengalaman sindiri maupun pengalaman orang lain yang dideskripsikan. Manusia membangunan peradaban dan kebudayaannya sendiri melalui kemampuan deskripsi lisan dan kemudian berkembang kepada deskripsi tulisan. Kebudayaan yang didalamnya terkandung pengetahuan-pengetahuan hasil dari pengalaman generasi-generasi sebelumnya, berkembang secara sedimentasi, berlapis-lapis, bertumpuk-tumpuk, dan tiap lapisan mengandung makna pencapaian optimum dari genarasi yang membangunnya.

Selama pembelajaran menjadi bagian dari kodrat manusia maka demikian juga pengembangan kebudayaan dan peradabannya menjadi sebuah keniscayaan. Sampai kapan? sampai ke dalam ketiadaan. Ketiadaan (emptiness) adalah bahasa yang dipakai dalam ruang ilmu pengetahunan, sementara kekekalan (eternity) adalah bahasa kaum agamawan untuk satu pengertian yang sama. Untuk lebih menjelaskan maksud tulisan ini maka ijinkanlah saya menggunakan terminologi kalangan agamawan ini. Berawal dari kekekalan sampai kekekalan. Lantas apa artinya kehidupan manusia? kehidupan manusia adalah bagian dari periode yang berawal dari kekekalan sampai kekekalan. Jika kita ingin membayangkan bahwa awal dari segala sesuatu adalah kekekalan dan akhir dari segala sesuatu adalah kekekalan, maka dapatlah kita bayangkan sebuah garis yang tidak berujung hulu dan tidak berujung hilir atau dalam bahasa matematika dikenal dengan istilah infinity. Lalu diantara garis infinity itu, kita bayangkan muncul riak garis lalu setelah sekian jauh beriak lalu garis itu kembali lurus lagi. Ujung hulu Garis yang beriak itu adalah permulaan kehidupan manusia di Bumi sementara ujung hilir garis yang beriak itu adalah akhir dari kehidupan peradaban manusia dan kehidupan bumi atau yang lebih luas lagi alam semesta ini. Pemahaman ini sejalan dengan big bang theory yang dikembangkan oleh ilmuwan terkemuka untuk menjelaskan terjadinya alam semesta ini. Berdasarkan big bang theory alam semesta ini mengerut dan mengembang sejak ledakan besar terjadi berbilyun-bilyun tahun cahaya yang lalu. Dan bumi kita berada dalam pusaran ledakan itu, yang belum berhenti bergerak sampai sekarang ini. Alam semesta tidak kosong di dalamnya bergerak energi yang besar, yang mengatur semua sirkulasi, gerakan benda-benda yang ada didalamnya. Ada hukum yang mangatur alam semesta ini, dan didalam hukum tersebut terdapat turunan hukum yang lain yang mengatur dalam skala yang lebih kecil demikian seterusnya. Skala itu berujung, paling tidak sampai saat baru itulah yang bisa difahami oleh manusia yaitu skala atom. Apakah ada skala yang lebih kecil lagi seperti misalnya atom di dalam atom?. Tentu jika mengingat pola dari kekekalan sampai kekekalan maka skala itu pastilah tidak akan berujung akan ada berjuta-juta skala yang lebih kecil lagi dari atom, jika saja seandainya ada kemampuan kita untuk menemukannya. Jadi jika kita menyadari sepenuhnya bahwa alam semesta ini bergerak dalam tatanan hukum-hukum yang pasti,digerakan oleh energi kosmik yang maha besar, maka sungguh sulit untuk meragukan sang Cause Prime atau Sang Prime Mover di dalam alam semesta kita ini. Maka perjuangan para ilmuwan besar yang mendedikasikan hidupnya untuk membuka tabir rahasia alam semesta ini, selayaknyalah membawa umat manusia semakin mendekat kepadaNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar