Selasa, 06 Januari 2009

Dayak dan Kedayakkan :Revitalisasi Peran Dalam Ruang Urban

Dayak adalah sebuah entitas dari sebuah keruangan sosial lengkap beserta dengan pranatanya dan dari sebuah keruangan silang budaya yang telah melintasi suatu lorong sejarah waktu dan ruang yang panjang, bahkan hampir separuh belahan bumi.. Itulah sebabnya dia seharusnya jangan direduksi hanya sekadar sebagai suatu identitas etnis yang terkungkung oleh sebuah lokalitas dan garis keturunan semata. Dia telah melintasi aneka lokalitas dan aneka persilangan. Dayak sejatinya adalah sebuah perjalanan sejarah panjang migrasi demi migrasi melintasi savana dan gurun Mongolia, Dataran Yunan, hutan hujan tropis di pedalaman Vietnam, dan kemudian mungkin menyeberang ke Pulau Taiwan, dan dari sana menyeberang lagi ke pulau Luzon sebelum mendarat di Pulau Kalimantan. Proses yang terjadi selama ribuan tahun itu, pastilah telah menghadirkan suatu keruangan sosial unik lengkap dengan pranata budayanya yang dihasilkan oleh akulturasi demi akulturasi dan, asimilasi demi asimilasi, hasilnya adalah sebuah tipikal masyarakat nomaden-agraris yang menggantungkan hidupnya pada kemurahan alam. Suatu suku bangsa yang hidup menyejarah bersama dengan keliaran alam. Jejak perjalanan migrasi itu setidaknya telah diidentifikasikan oleh beberapa ahli sejarah walaupun juga sampai saat ini, masih mengundang perdebatan di sana-sini. Tapi setidaknya jejak itu juga berhasil oleh dikenali secara sederhana oleh penulis ketika dalam sebuah event internasional bertemu dengan beberapa rekan dari Mongolia, Yunan, Taiwan, Pedalaman Vietnam, dan Pulau Luzon. Penulis terheran-heran sekaligus takjub, ketika menemukan lumayan banyak juga kosa kata bahasa Dayak Ngaju yang dikenali mereka dengan makna yang sama. Malah teman dari pedalaman Vietnam bercerita kalau upacara Tiwah juga di kenal di dalam masyarakat mereka. Apakah ini pertanda kalau thesis tentang asal muasal dayak seperti yang dijabarkan di atas benar adanya? Entahlah hanya Tuhan yang tahu. Tapi jika benar, maka tak pelak lagi manusia Dayak sejatinya adalah manusia global. Paling tidak bagi manusia proto Dayak yang telah melintasi hampir setengah belahan bumi.
Berbeda dengan Dayak yang sepenuhnya adalah sebuah entitas, Kedayakkan bukanlah semata-semata sebuah entitas, dia adalah sebuah kesadaran diri (self consciousness) sebagai hasil dari re-identifikasi kultural dan proses penemuan jati diri yang tiada henti. Sebuah Kedayakkan mestinya juga muncul setelah melewati suatu rentangan waktu dan sejarah dan diproses secara dinamis oleh tantangan jaman. Sebuah definisi ulang tentang sebuah entitas, yang lebih fit dan cocok terhadap kondisi kekinian, sebagai reaksi natural terhadap kegamangan-kegamangan yang muncul di jaman yang berubah dengan cepat. Dayak adalah makna tentang identitas yang bersumber pada asal muasal, garis keturunan, kinship, dan lokalitas. Sebuah makna yang terhubung dengan lorong waktu kesilaman. Sementara Kedayakkan adalah kesadaran diri (self consciouness) dalam perjalanan waktu terhadap kekinian, lebih bersifat egaliter, terbuka, dan membaur, terhubung dengan lorong waktu kesilaman sekaligus dengan lorong waktu masa depan.
Di dalam ruang urban, kesadaran tentang Dayak dan Kedayakkan memberikan responnya masing-masing secara berbeda-beda. Ruang urban adalah sebuah ruang spasial dalam sebuah kota, yang dapat ditemu-kenali secara kasat mata melalui eksistensi pusat ekonomi dan bisnis, konsentrasi pemukiman, yang terbentuk sebagai konsekuensi logis dari dinamika pertumbuhan ekonomi dan populasi yang dipicu oleh arus urbanisasi atau yang lebih kompleks, migrasi. Ruang urban dapat berisikan manusia-manusia multi ras, multi etnis, bersifat heterogen, sehingga hubungan sosialnyapun menjadi lebih unik atau bisa juga membentuk budaya baru yang disebut sebagai budaya urban. Di dalam ruang urban kompetisi ekonomi terjadi. Kapital bergerak dengan masif. Volume perdagangan dan jasa terus menerus meningkat secara ajeg, yang juga berimplikasi kepada peningkatan kebutuhan tenaga kerja. Lalu bak gula menarik semut, arus urbanisasi dan migrasi mulai membanjiri ruang urban. Jari-jari kota memanjang, kawasan hunian dan pusat ekonomi semakin bertambah banyak dan mengalami agglomerasi. Persaingan dalam memperebutkan lapak ekonomi di ruang urban, secara natural akan selalu membawa dampak exclusion (ketersingkiran) kepada pihak yang tidak siap. Disinilah ketegangan sosial (social tension) bisa terjadi. Lalu kesadaran tentang sebuah entitas tunggal (Dayak), yang dipersatukan oleh simbol-simbol budaya dapat dengan mudah menjadi wadah yang aman untuk berlindung dari ketegangan itu. Penyelesaian masalah akan lebih mudah dilakukan bersama sebuah kelompok homogen yang memiliki posisi tawar cukup tinggi, dan terkadang pakai jalan pintas, maka jalan kekerasan atas nama ketertindasan dan “keterjajahan”pun bisa dihalalkan kalau perlu.
Dalam situasi di ruang urban seperti itu, kesadaran untuk memahami aspek kompetisi dan heterogenitas sangat diperlukan untuk dapat bertahan dan terhindar dari exclusion. Celakanya andaipun kesadaran itu dimiliki, namun jika kemampuan (skill) untuk berkompetisi menjadi sangat tidak memadai, maka tetap saja natural exclusion itu akan terjadi. Ini adalah sebuah tipikal hukum alam, yang kuat akan memakan yang lemah. Pembangunan ruang urban sebuah wilayah kota yang sangat berkiblat kepada kapital (modal), suka atau tidak suka perlahan-lahan akan meminggirkan mereka yang tidak siap baik secara kapital maupun skill. Fenomena ini sangat umum sekali terjadi di ruang urban. Sebagai contoh, urbanisasi kota Jakarta telah membuat orang Betawi tereksklusi dari ruang urban. Desakan perkembangan wilayah kota dan persaingan ekonomi, telah memaksa mereka untuk menjual tanah-tanah mereka kepada pemilik modal dan pindah ke luar kota. Sumber-sumber ekonomi yang semula dikuasai berganti kepemilikan kepada para pendatang yang memang lebih memiliki daya survive. Merekalah yang menggerakkan perekonomian Jakarta dan mengubah wajah Jakarta yang sekarang telah menjadi Agglopolitan. Orang betawi tersingkir dan kehilangan hak hidup di sebuah ruang urban yang bernama Jakarta. Ini adalah hukum alam atau jangan-jangan sebuah ironi.
Dalam perspektif kesadaran Kedayakkan yang lebih responsif terhadap situasi kekinian, bersifat egaliter, terbuka dan membaur, jauh dari kesan etnosentris yang sempit, fenomena ini seharusnya menjadi sebuah tantangan yang harus ditaklukan. Budaya hidup yang sangat bergantung kepada kemurahan alam mesti di transformasi kepada budaya mengolah alam, yang mana, ini berkaitan erat dengan produk kebudayaan lain, seperti teknologi yang dapat bersumber dari kekayaan local wisdom, dan genio loci setempat. Dari budaya hidup komunal dengan sedikit kompetisi, secara perlahan di dorong untuk memiliki budaya komunal bersaing, penemuan kepada keunggulan lokal, berwawasan luas dan global, skill memadai, dan mampu memenuhi tuntutan pasar. Budaya yang mengandalkan tradisi lisan ditransformasi menjadi budaya tulisan yang dapat dicapai melalui pendidikan (peran ini dapat diambil oleh para intelektual,seniman dan budayawan dayak sebagai garda terdepan). Nilai-nilai lama dari budaya luhur warisan tatu hiang sebaiknya mengalami pembaruan kembali melalui proses re-invented sehingga cocok dengan kondisi kekinian. Inilah “kelahiran kembali” (re-born) Manusia Dayak. Manusia Dayak moderen yang tanggap terhadap tantangan jaman, mampu hidup dalam heterogenitas dan sanggup berkompetisi namun tidak pernah kehilangan jati dirinya. Revitalisasi terhadap peran-peran di ruang urban mestinya juga dilakukan agar peran tersebut semakin memiliki daya saing. Penghadiran kesadaran Kedayakkan mestinya dilakukan secara terus menerus dari generasi ke generasi, sejalan dengan upaya penggalian kembali terhadap makna baru tentang Dayak dan Kedayakkan,yang seharusnya lebih dari pada soal entitas kesukuan, lebih dari pada soal budaya dan adat dayak dalam konteks yang sempit, yaitu pada soal kesadaran hidup di tengah-tengah heterogenitas dan kompetisi. Dayak adalah sebuah indigenous entity dengan segala potensi dan keunikannya di dalam ruang-ruang urban di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Haruskah itu pelan-pelan tersingkir dari kompetisi di ruang urban?
(Penulis adalah Mahasiswa Doktoral di Toyohashi University Of Technology, bidang kajian Urban and Regional Management and Development, bekerja di Jurusan Arsitektur Universitas Palangka Raya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar