Selasa, 06 Januari 2009

Tahun Baru

Menjelang pergantian Tahun baru, berada di negeri orang, membuat saya menyimpan satu keinginan untuk melihat bagaimana perayaan pergantian tahun di negeri Belanda. Tentu saja saya masih membawa referensi perayaan tahun baru di negeri kita , yang biasanya ditandai dengan penyemutan suatu massa di tempat tertentu, alun-alun misalnya, atau bundaran besar kalau di Palangkaraya, pertunjukan musik adalah suatu keniscayaan
Dengan suatu hasrat untuk membandingkan inilah, tepat pukul 11 malam saya memaksakan diri untuk keluar dari kamar meskipun kepala agak sedikit pusing, sepulang dari Maastricht mungkin sedang terserang influenza. Udara sangat dingin, mungkin di bawah 0 derajat celcius. Saya mengenakan jaket tebal, memasang “Mut” (topi wol) dan membawa kamera digital, yang saya pikir mungkin berguna untuk merekam detik-detik pergantian tahun. Dari jalan schicade tempat tinggal saya melangkah kearah timur menuju Erasmus bridge, jembatan kebanggan warga Rotterdam. Sambil melangkah, sesekali memainkan uap udara yang keluar seperti asap dari lubang mulut, saya memperhatikan keadaan lalulintas. Tidak terlalu ramai memang, paling tidak seperti biasanya, mobil-mobil berseliweran dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Sesekali lewat mobil yang mengumandangkan “house music” dengan volume yang keras.
Tram yang biasanya lewat dijalan Schikade hari itu sudah berhenti beroperasi sejak jam 8 malam demikian juga kereta, metro dan bis. Memang transportasi massa di Rotterdam sangat bagus, karena dilayani oleh berbagai alternatif alat angkut. Untuk jarak jauh, antar kota antar propinsi, maka kereta listrik jadi andalan, meskipun untuk jarak dekat juga tersedia kereta listrik. Untuk dalam kota tersedia dua alternatif naik tram, atau bis. Sementara untuk menghubungkan kota-kota pemukiman baru disekitar Rotterdam, umumnya dilayani oleh metro. Kita memang jarang melihat kehadiran metro, karena umumnya metro berjalan di bawah tanah. Untuk masuk ke stasiunnya kita harus “menyelam” terlebih dahulu ke bawah tanah melalui tangga berjalan yang tersedia disetiap stasiunnya.
Sehingga praktis angkutan kota sudah “lumpuh” total sejak jam 8 malam menjelang detik-detik pergantian tahun. Saya berjalan dengan langkah cepat menyusuri jalan Schicade bertemu dengan “hooftplein” (mirip bundaran HI di Jakarta), belok sedikit dan menyeberangi lintasan tram, saya bertemu Staad huis (kantor walikota) yang terletak tidak jauh dari centrum. Suara petasan terdengar sahut menyahut di langit Rotterdam dengan kekerapan yang tidak terlalu tinggi. Saya sungguh tidak tahu dari mana mereka mendapatkan barang itu, karena di Rotterdam barang tersebut dilarang untuk perjual belikan.
Di pojok jalan saya melihat, sekumpulan anak-anak muda, yang kalau melihat tampangnya, keturunan Turki, sedang bermain-main dengan petasan. Asap yang berbau belerang memenuhi pojok jalan itu.Tidak ada polisi. Dari Beurs, saya melanjutkan perjalanan, melewati museum maritim, didepan museum saya melihat Kapal yang sengaja diletakan ditepi jalan sebagai monumen yang menjadi penanda keberadaan sebuah museum maritim . Sejenak ingatan saya melayang ke Aceh, dalam tayangan CNN saya juga melihat kapal yang terletak ditepi jalan di Aceh. Hanya bedanya kapal di Aceh dihanyutkan oleh gelombang tsunami yang merupakan bencana yang sungguh sampai saat ini membuat hati saya risau tentang keadaan diAceh. Kemarin saya bertemu, ketua PPI Rotterdam, dan berbicara untuk menggalang dana bagi bantuan kemanusiaan di Aceh.
Dari kejauhan saya sudah melihat konstruksi Erasmus bridge, yang satu-satunya kolom utama berbentuk segitiga bengkok raksasa yang menjulang tinggi dari tengah sungai New Maas. Dari kolom raksasa itu muncul juluran puluhan kabel-kabel baja ke dua arah yang berlawanan untuk menopang badan jembatan. Panjang jembatan kira-kira 1,5 kilometer dengan lebar 30 meter. Di tengah badan jembatan terbujur jalur untuk tram, diapit jalur untuk kendaraan bermotor, sementara diujung paling kanan dan kiri badan jembatan tersedia jalur untuk pejalan kaki dan jalur untuk sepeda yang biasanya di belanda ditandai dengan cat warna merah pada jalannya.
Menjelang mendekati jembatan itu, suara petasan masih mendominasi, rasanya tinggal didaerah perang dengan intensitas ledakan yang kecil, orang-orang juga memiliki tujuan yang sama menuju jembatan. Saya memilih berhenti di tengah-tengah jembatan. Dari posisi ini saya bisa melihat seantero Rotterdam yang terletak ditepi sungai. Malam itu gelap tanpa ada bulan dan bintang, tapi bangunan-bangunan yang terletak ditepi sungai memancarkan gemerlap lampu-lampu yang berwarna-warni dengan kerlap-kerlipnya, sungguh cantik. Sementara dibawah bersandar dua kapal tour keliling kota di dermaganya. Saya pernah naik salah satu kapal itu yang bernama Marcopolo dalam suatu “excursion” ke staadhavens, untuk melihat salah satu pelabuhan terbesar didunia. Saya teringat ketika melihat pemandangan Rotterdam dari atas kapal dan membayangkan bagaimana kalau hal ini bisa juga saya nikmati di kota kebanggaan kita Palangkaraya. Posisi Rotterdam itu sendiri kalau menurut saya, sangat mirip dengan posisi kota Banjarmasin atau Kumai atau Sampit, dimana letaknya agak sedikit ditarik dari laut lepas masuk ke bagian dalam sungai. Jaraknya dari laut lepas kira-kira 30 km.
15 menit menjelang tahun baru, langit Rotterdam mulai dipenuhi kembang api dalam skala kecil, terlihat membubung dari setiap sudut kota yang dapat terlihat dari jembatan dari berpendaran diangkasa dengan indah. Warna-warna pelangi bermunculan dari percikan kembang api yang meledak di angkasa sungguh kontras dengan warna langit Rotterdam yang gelap. Sementara warga mulai menyemut, dari berbagai penjuru kota. Mobil-mobil berhenti di jembatan. Para noni-noni belanda yang juga terdiri dari berbagai keturunan, ada noni belanda yang berkulit gelap berarti berasal dari afrika atau suriname, ada juga yang berkulita sawo matang seperti saya, berarti dia berasal dari Indonesia, mereka berdandan modis dan semuanya cantik-cantik paling tidak dalam pandangan mata saya. Sementara di seberang jalan, saya melihat anak-anak muda mengeluarkan bungkusan petasan dari dalam bagasi mobilnya, dan mulai mengganggu para noni dengan bunyi petasan yang mengejutkan. Sesekali terdengar ungkapan kekagetan akibat bunyi petasan yang meledak didekatnya. Tidak ada yang marah, semua wajah kelihatannya senang dan penuh dengan tawa dan canda. Sesekali terlihat orang-orang yang berjalan sambil menenteng botol minuman keras, agak sedikit mabuk tapi tidak mengganggu. Tidak ada perkelahian. Karena memang disini berlaku hukuman yang sangat keras untuk mereka yang berkelahi dan memukul. Bisa masuk penjara bertahun-tahun. Itulah sebabnya orang Belanda hanya doyan bertengkar mulut, tapi memukul, itu soal yang sangat sangat dihindari.
5 menit menjelang pergantian tahun, intensitas bunyi petasan dan kembang api semakin tinggi, bunyi seolah-olah tidak berhenti, suara gaduh warga, suara tawa dan canda terdengar bersahut-sahutan dari berbagai pojok jembatan. Sebenarnya tidak ada acara resmi yang digelar oleh pemerintah kota untuk menyambut pergantian tahun, semuanya itu adalah inisiatif dari warga termasuk penyalaan kembang api. Sehingga tidak ada kegiatan protokoler dan hiburan. Semua warga disini datang, hanya untuk merasakan detik-detik pergantian tahun baru di langit terbuka, dan dibelai oleh angin malam Rotterdam yang dingin ketimbang diam dirumah. Tapi umumnya warga belanda juga merayakan pesta tahun baru di kafe-kafe yang buka 24 jam bersama dengan keluarga dan kawan-kawan.
Dan puncaknya, hitungan mundur mulai dilafalkan bersama-sama oleh warga,….. …acht,..seven…..seis……five…..vier……drie……twee…..ein…..hurai..hurai…..hurai. Suara klakson kapal terdengar bersahut-sahutan dengan klakson mobil. Tidak ada bunyi terompet. Sementara langit Rotterdam mulai diisi dengan kembang api ukuran rakasa yang memancarkan kilau cahaya yang indah dari berbagai penjuru Rotterdam. Pertunjukan kembang api atas inisiatif warga seolah-olah tidak ingin berhenti selama 5 menit. Dan tentu saja saya tidak mau melepaskan momen indah ini, sementara hati saya sedih melihat dua hal yang kontras, sementara di Aceh dan negara Asia lain, puluhan ribu orang kehilangan nyawa, dan jutaan orang kehilangan mereka yang dicintai, disini orang-orang bejingkrak-jingkrak kegirangan, segera kamera digital ditangan saya beraksi merekam momen ini. Orang-orang berteriak-teriak, saling berpelukan, berjabat tangan dan mengucapkan selamat tahun baru dengan satu harapan dan doa semoga tahun baru ini membawa hal yang baru. Hati saya melayang sejenak ke Palangkaraya, sejenak kesepian menyergap di tengah sukaria. Perasaan sendiri jauh dari sanak keluarga, jauh dari orang-orang yang kita cintai menggapai ujung-ujung relung hati saya, membuat saya membuang pandang kearah air sungai yang gemerlap oleh cahaya lampu. Wahai air bawalah rinduku ke Palangkaraya. SELAMAT TAHUN BARU LE.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar