Selasa, 06 Januari 2009

Krisis Listrik di Palangkaraya :Dampak dan harapan

Krisis energi tampaknya sedang melanda Indonesia, itu hanyalah salah satu diantara persoalan-persoalan Indonesia di era rezim SBY. Krisis ini bukan main-main karena membawa dampak yang serius bagi perekonomian baik dilevel daerah maupun nasional. Banyak daerah yang kekurangan pasokan BBM. BBM tiba-tiba menjadi barang langka. Antrian kendaraan bermotor di SPBU di berbagai daerah sering kita lihat di layar televisi akhir-akhir ini.
Kelangkaan bahan bakar solar juga terjadi di Palangkaraya, bahkan sempat telah memaksa PLN untuk memadamkan listrik setiap delapan jam yang menyebabkan lumpuhnya aktifitas perekonomian yang mengandalkan listrik sebagai pasokan energinya. Kerugian sudah dapat dihitung dengan mudah misalnya untuk usaha warnet yang seharusnya beroperasi selama kurang lebih 16-18 jam sehari, akibat pemadaman selama dua kali dalam sehari, harus kehilangan 6-8 jam operasi sehari, sementara biaya perawatan dan investasi yang harus dikeluarkan tetap tidak berkurang. Belum kalau usaha-usaha yang lain juga kita hitung. Pastilah banyak kerugian yang ditimbulkan akibat macetnya arus listrik dalam skala kota.
Pemadaman listrik setiap delapan jam, hanya sebagai pelengkap dari drama pemadaman listrik secara bergiliran yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan di Kota Palangkaraya dengan alasan klasik akibat adanya perawatan mesin pembangkit di Asam-asam sebagaimana yang tertulis di spanduk-spanduk dan iklan pemberitahuan yang dikeluarkan oleh PLN.
Sebenarnya perawatan mesin adalah hal yang biasa saja, dimana-mana overhaul adalah kegiatan yang penting untuk merawat kinerja mesin dalam jangka waktu yang panjang, tetapi kegiatan tersebut seharusnya tidak boleh mengganggu pasokan energi listrik secara drastis. Apa yang terjadi di Palangkaraya saat ini menunjukan bahwa persoalan bukanlah terletak pada overhaul mesin pembangkit Asam-asam, tetapi pada minimnya kemampuan PLN untuk mencari pasokan energi lain di saat overhaul tersebut dijalankan. Atau dengan kata lain tingkat ketergantungan terhadap pasokan energi listrik dari Kalimantan Selatan melalui jaringan kabel bertegangan tinggi sepanjang ratusan kilometer sangatlah tinggi. Sehingga apa saja yang terjadi terhadap mesin-mesin pembangkit listrik dari provinsi tetangga pastilah akan melumpuhkan kota Palangkaraya. Dua pembangkit listrik mesin diesel yang dimiliki oleh kota ini, hanya mampu memasok listrik jauh dibawah kebutuhan listrik dari kota yang semakin berkembang ini. Ketergantungan ini tidak bisa terus dipertahankan bila mengingat perkembangan kota yang terus bertumbuh berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan energi listrik yang tidak mungkin bisa diimbangi oleh kapasitas sebuah pembangkit listrik bertenaga diesel yang memiliki batas ekspansi. Berangkat dari persoalan tersebut, seharusnya PLN perlu berpikir untuk mencari alternatif pasokan energi listrik yang lain sebagai cadangan.
Listrik adalah fasilitas dasar kota yang sama pentingnya dengan penyediaan air bersih, penyediaan jalan, drainase dan sanitasi, dan pengelolaan sampah. Dimana itu adalah menyangkut hajat hidup orang banyak dan berdampak langsung terhadap perekonomian kota. Investasi akan sulit masuk ke Palangkaraya, jika krisis ini terus berlanjut. Bahkan di negara yang menjadi magnet investasi seperti China juga tidak luput dari krisis listrik, sampai akhirnya keputusan strategis telah diambil dengan membangun pembangkit listrik terbesarnya untuk menunjang investasi besar di kota Nanjing, Shanghai dan kota-kota lain dengan membangun dam tiga lembah (Three gorgeous dam). Banyak cara yag sebenarnya bisa dipilih oleh PLN untuk mengatasi krisis ini, tanpa bermaksud mengajari, mulai dari yang bernilai investasi kecil sampai yang besar, mulai dari yang ringan untuk dikerjakan sampai yang berat. Misalnya, melakukan negosisasi untuk menambah kuota pasokan listrik dari Kalimantan Selatan, memperbesar kapasitas pembangkit listrik yang sudah ada dikota melalui program peremajaan mesin-mesin yang sudah tua dan berdaya kecil, melakukan program penghematan energi listrik, atau bahkan membangun pembangkit listrik baru yang berkapasitas besar di Kalimantan Tengah.
Membangun pembangkit listrik tenaga air bukanlah hal yang mustahil bila dilihat dari topografi sebagian wilayah Kalimantan Tengah yang berbukit-bukit dengan sungai yang memiliki debit air besar seperti di wilayah Murung Raya dan Barito Utara. Atau jika melihat potensi tambang batubara di wilayah ini, maka membangun pembangkit listrik bertenaga uap dengan kapasitas yag besar akan menguntungkan jika ditinjau dari ketersediaan bahan baku..
Di negeri Belanda, yang memiliki luas wilayah yang kecil, bertopografi datar dengan sungai-sungai yang tidak sebesar, sebanyak, dan tidak sepanjang sungai di Kalimantan Tengah membangun dam-dam pembangkit listrik adalah sebuah pekerjaan yang dinilai tidak efektif meskipun secara teknis mereka mampu membangunnya. Pasokan Listrik terutama datang dari wilayah Jerman dan Belgia. Misalnya untuk provinsi Limburg yang berbatasan langsung dengan Belgia dan Jerman, pasokan listrik sebagian datang dari kedua Negara tersebut melalui jaringan tegangan tinggi. Disamping itu secara nasional, pembangkit listrik bertenaga nuklir juga dimiliki oleh Belanda. Privatisasi di bidang kelistrikan sudah dilakukan sejak lama, yang berperan besar dalam penyediaan pasokan listrik yang konstan dengan harga yang terjangkau. Sehingga pemadaman secara bergiliran yang berlangsung selama berbulan-bulan, sepengetahuan saya tidak pernah terjadi.
Yang unik, yang merupakan pemandangan khas di Belanda adalah, penggunaan kincir-kincir penangkap angin di wilayah-wilayah tertentu (gementee) untuk menghasilkan cadangan pasokan listrik yang bisa digunakan kala terjadi kekurangan pasokan listrik secara tiba-tiba.
Pelajaran yang bisa dipetik dari sedikit cerita tentang listrik di negeri Belanda diatas adalah, adanya kesadaran bahwa energi listrik adalah vital untuk sebuah kota untuk menunjang kegiatan investasi, sehingga pasokannya perlu dijaga dengan konstan melalui pemberian hak kepada swasta untuk mengelola listrik melalui program privatisasi yang dikontrol oleh pemerintah lokal, dan adanya upaya-upaya secara terus menerus dari baik ditingkat pemerintah nasional maupun lokal untuk melakukan diversifikasi sumber-sumber pembangkit listrik.
Mudah-mudahan kedepan, sebagaimana harapan kita bersama, PLN-PLN lokal diwilayah Kalimantan Tengah dapat bangkit untuk mengatasi krisis “setrum” diwilayah ini yang nampaknya akan menjadi sebuah trend kalau tidak ditangani secara strategis, melalui upaya-upaya untuk mengurangi ketergantungan pasokan listrik dari propinsi tetangga yang nampaknya sudah keberatan beban, melakukan diversifikasi sumber-sumber pasokan yang potensial dan bahkan kalau iklimnya sudah memungkinkan, privatisasi yang terkontrol bisa dijadikan alternatif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar