Sabtu, 10 Januari 2009

ICT dan Perdagangan Komoditas di Daerah Hinterland

Teknologi komunikasi dan informasi berkembang dengan pesat. kehadiran teknologi ini tidak hanya telah merambahi kawasan urban tetapi juga terindikasi telah hadir di wilayah-wilayah pedalaman yang populer disebut kawasan hinterland terutama dalam dialektika urban-hinterland. Tanda-tanda kehadiran teknologi ini dapat dideteksi secara visual dengan melihat wilayah covering jaringan teknologi ini. Karena untuk memperbesar radius ruang covering, teknologi ICT sangat tergantung dengan jaringan yang digunakan untuk mendistribusikan informasi (berupa data text, image, voice) menuju media komunikasi dan informasi seperti telepon seluler, fixed telephone, radio, dan televisi.

Kawasan hinterland adalah kawasan penyokong kehidupan wilayah urban. Karena dari wilayah inilah bahan-bahan mentah (row material) di produksi dan di bawa ke kota.
Sehingga perekonomian kota ( Urban Economy) sedikit banyak di pengaruhi oleh eksistensi kawasan-kawasan hinterland di sekitar kota. Selain itu dialektika urban-hinterland dalam spektrum yang luas tidak hanya membawa implikasi pada soal demand and supply yang membentuk struktur perdagangan komoditas bahan mentah semata yang saling menguntungkan, namun juga dapat membawa pada implikasi-implikasi negatif. Eksistensi kawasan hinterland bisa menjadi beban bagi struktur wilayah urban. Jika migrasi penduduk dari kawasan hinterland ke ruang urban terjadi, karena alasan ekonomi, karena kawasan hinterland tidak menjadi tempat yang menjanjikan secara ekonomi, maka wilayah urban akan menerima penetrasi populasi yang tidak seimbang lagi dengan kemampuan urban dalam melakukan penyesuaian. Pertambahan populasi berarti, pertambahan ruang hidup (living space), pertambahan infrastruktur urban (penyediaan air bersih, pengolahan sampah, jaringan listrik, perumahan, dll), juga pertambahan permintaan lapangan pekerjaan (employment).

Dalam kerangka inilah, bagi para urban manager, dialektika urban-hinterland harus menjadi perhatian dengan melakukan upaya-upaya dinamisasi dan penguatan pada faktor-faktor yang mempengaruhi dialektika tersebut. Dan salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah faktor aksesibilitas pada informasi dalam hubungan perdagangan bahan mentah di kawasan hinterland. Faktor aksesibilitas pada informasi terutama informasi yang berhubungan dengan bisnis, ditemukan memperkuat posisi tawar (bargaining position) produsen dalam transaksi jual beli terutama dalam menentukan harga komoditas dalam negosiasi untuk mencapai tingkat ekspektasi harga yang diharapkan. Di kawasan hinterland Tangkiling yang relatif lebih terbuka dibandingkan kawasan hinterland Kalampangan dan DAS Rungan, ditemukan bukti bahwa kuatnya posisi tawar akan memicu kestabilan pada tingkat ekspektasi yang diharapkan oleh produsen sehingga lebih menguntungkan dan lebih menggairahkan perekonomian lokal.
Perekonomian di kawasan hinterland yang bergairah dan menjanjikan akan menahan arus migrasi dari kawasan hinterland menuju wilayah urban.

Aksesibilitas pada informasi dipicu dan disokong oleh teknologi komunikasi dan informasi.
Media yang umumnya ditemukan di kawasan hinterland adalah telepon seluler, fixed telephone, radio, dan televisi. Terdapat bukti yang signifikan bahwa penetrasi teknologi ini, melalui pengembangan jaringannya di kawasan hinterland, telah memicu perluasan pemanfaatan teknologi ini di kawasan hinterland kota Palangka Raya. Dan kepentingan bisnis merupakan salah satu spektrum dari penggunaan teknologi ICT.

Pengetahuan mengenai harga up to date komoditas bahan mentah yang diperoleh dengan bantuan teknologi ICT, menggunakan telepon seluler dan memilih fitur SMS (Short Message Service) untuk mengakses informasi dari berbagai sumber, ditemukan berkontribusi dalam memperkuat posisi tawar produsen dalam bernegosiasi untuk mencapai harga komoditas yang memenuhi tingkat ekspektasi.

Namun aksesibilitas kepada informasi ternyata bukanlah satu-satunya faktor yang memperkuat posisi tawar untuk dapat memenangkan negosiasi. Di temukan bahwa kemampuan dalam menahan/menyimpan produksi dalam jangka waktu yang lama, kualitas produksi juga menjadi elemen-elemen yang menentukan posisi tawar. Sehingga walaupun posisi tawar dalam negosiasi transaksi jual beli bisa menguat sebagai akibat dari aksesibilitas kepada informasi utamanya informasi harga terbaru, namun posisi tawar tersebut tidak akan sampai kepada penentuan tingkat harga ekspektasi yang memuaskan produsen jika tidak dilengkapi dengan daya kemampuan untuk menahan hasil produksi dalam jangka waktu lama dan meningkatkan kualitas produksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar