Selasa, 06 Januari 2009

Era Desentralisasi

Era desentralisasi telah memberikan peluang yang besar bagi daerah-daerah yang selama ini punya sumber daya alam yang berlimpah tetapi tidak bisa memanfaatkaannya sebesar-sebesarnya untuk pembangunan daerah itu, karena terganjal oleh undang-undang yang mengatur bahwa pengelolaan sumber daya alam dilakukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah dalam hal ini hanya menjadi subordinat.
Disamping itu, era desentralisasi telah menjadi momentum bagi setiap daerah untuk membuat perencanaan yang bersifat strategis untuk menarik investasi dan memutar roda perekonomian daerah yang berujung pada kesejahteraan masyarakatnya. Ada pemerintah daerah yang sadar bahwa desentralisasi adalah salah satu trends dalam urban management selain kerjasama (partnership), pendekatan manajerial (managerial approach). Sehingga pemberlakuan otonomi daerah diikuti dengan pembuatan rencana strategis baik pada tingkat kebijakan (policy) dan tingkat rencana pelaksanaanya (action plan).
Melihat pada kota kita Palangkaraya, memang ada upaya untuk membuat suatu rencana strategis yang dapat kita lihat dalam visi dan misi kota palangkaraya yaitu menjadikan kota Palangkaraya sebagai kota yang tertata, tertib, dan berwawasan lingkungan dalam suasana kehidupan masyarakat yang aman, sejahtera, dan dinamis sesuai dengan budaya betang. Visi ini, menurut saya sungguh luar biasa, karena menggabungkan aspek good governance, lingkungan (environment), dan budaya (culture). Sehingga saya membayangkan kalau kota palangkaraya akan menjadi kota yang moderen tetapi nafas kelokalannya yang khas dan bersifat guyub tetap terlihat. Visi dan misi ini oleh pemerintah kota, kemudian dijabarkan dalam suatu rencana strategis kota baik jangka pendek maupun jangka panjang yang ikuti dengan pembuatan program diberbagai bidang seperti pertanian, perikanan, pertambangan, kehutanan dan lain-lain.
Namun sayangnya, menurut hemat saya, ada satu aspek yang tidak tergarap dengan baik, yaitu aspek urban economic. Aspek urban economic tidak semata-mata berbicara masalah perekonomian semata yang dapat terukur melalui indikator makro, tetapi lebih pada suatu sistem ekonomi kota yang terencana secara menyeluruh dan yang pada gilirannya akan memacu tingkat pertumbuhan ekonomi kota, menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi angka kemiskinan, dan menciptakan iklim yang baik untuk investasi.
Kota Palangkaraya dapat memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya dalam suatu rencana strategis kota (City Development Strategy) yang berujung pada membuat kota palangkaraya semakin kompetitif terhadap kota-kota yang ada disekitarnya seperti Sampit, Kapuas, Pangkalanbun dan lain-lain dengan memanfaatkan seluruh keunggulan komparatif dan kompetitif. Kota ini memang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk bisa dieksplorasi, juga tidak memiliki akses laut untuk membuat pelabuhan. Yang ada adalah akses darat yang menghubungkan kota ini dengan Banjarmasin melalui Kapuas, Sampit, Pangkalanbun dan satu lapangan terbang.
Kelebihan kota Palangkaraya adalah statusnya sebagai kedudukan ibukota propinsi Kalimantan Tengah yang membawa implikasi pada kelebihan secara relatif dibandingkan daerah lain pada infrastrukturnya. Keberadaan Universitas Palangkaraya dengan jumlah fakultas yang terbanyak dan bervariasi, dapat dipakai sebagai modal untuk menjadi kota yang kompetitif. Karena untuk menjadi kota yang kompetitif harus didukung oleh suatu knowledge base yang baik yang tersedia pada lembaga-lembaga pendidikan.
Kita tidak bisa mengharapkan kota Palangkaraya terlalu banyak tergantung dengan ekplorasi tambang pasirnya, hasil hutannya, pertaniaannya, perkebunannya atau perikanannya. Kota Palangkaraya menurut saya harus menjadi kota Moderen yang kompetitif. Kota ini memiliki peluang besar sebagai kota penyedia jasa baik jasa perbankan, pendidikan, perkantoran, perdagangan, perusahaan, kesehatan, properti dan lain-lain. Infrastruktur yang relatif lebih baik akan menjadi pilihan utama bagi para investor untuk menempatkan kantornya di kota ini. Bagian terluar dari kota Palangkaraya yang dekat dengan bahan mentah dapat diplot untuk pengembangan industri di masa mendatang.
Yang paling penting, menurut saya, bagi pemerintah kota saat ini adalah merumuskan kembali rencana strategis kota baik jangka panjang maupun jangka pendek dengan memasukan aspek urban economic dengan melibatkan seluruh komponen stakeholder dalam rangka menjadikan kota Palangkaraya yang kompetitif. Pemerintahan yang bersih yang mengurangi biaya ekonomi tinggi adalah syarat mutlak untuk sehatnya iklim investasi. Rencana strategis kota juga dilengkapi dengan action plan yang terukur dan tanggap terhadap perubahan. Melibatkan donatur dari luar negeri seperti World Bank, Asian Development Bank dan lain-lain dapat dijadikan alternatif ketika terbentur masalah biaya. Mereka siap mendanai rencana strategis kota yang realistis dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka mencapai tujuan Millenium Development Goal yang sudah dicanangkan oleh PBB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar